Home » » Belajar Ikhlas

Belajar Ikhlas

Posted by DEC Development Education and Culture on Sunday, 22 April 2012


DEC_Ikhlas kepada Allah -subhanahu wa ta'ala- maknanya seseorang bermaksud melalui
ibadahnya tersebut untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah -subhanahu wa
ta'ala- dan mendapatkan keridhaanNya.

Bila seorang hamba menginginkan sesuatu yang lain melalui ibadahnya, maka di sini
perlu dirinci lagi berdasarkan klasifikasi-klasifikasi berikut:
Pertama, dia memang ingin bertaqarrub kepada selain Allah di dalam ibadahnya ini
dan mendapatkan pujian semua makhluk atas perbuatannya tersebut. Maka, ini
menggugurkan amalan dan termasuk syirik.
Di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah -rodhiallahu'anhu- bahwasanya Nabi -
sholallaahu alaihi wa salam- bersabda, "Allah -subhanahu wa ta'ala- berfirman,



"Aku adalah Dzat Yang Paling tidak butuh kepada persekutuan para sekutu;
barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukanKu
dengan sesuatu selainKu, maka Aku akan meninggalkannya beserta kesyirikan yang
diperbuatnya." (Shahih Muslim, kitab az-Zuhud (2985).

Kedua, dia bermaksud melalui ibadahnya untuk meraih tujuan duniawi seperti
kepemimpinan, kehormatan dan harta, bukan untuk tujuan bertaqarrub kepada Allah;
maka amalan orang seperti ini akan gugur dan tidak dapat mendekatkan dirinya kepada
Allah -subhanahu wa ta'ala-. Dalam hal ini, Allah -subhanahu wa ta'ala- berfirman,
"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan
kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka itu di
dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh akhirat
kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia
dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (Hud:15-16)

Perbedaan antara klasifikasi kedua ini dan pertama; bahwa dalam klasifikasi pertama,
orang tadi bermaksud agar dirinya dipuji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah
kepada Allah. Sedangkan pada klasifikasi ini, dia tidak bermaksud agar dirinya dipuji
atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah bahkan dia malah tidak peduli
atas pujian orang terhadap dirinya.

Ketiga, dia bermaksud untuk bertaqarrub kepada Allah -subhanahu wa ta'ala-, di
samping tujuan duniawi yang merupakan konsekuensi logis dari adanya ibadah tersebut,
seperti dia memiliki niat dari thaharah yang dilakukannya -di samping niat beribadah
kepada Allah- untuk menyegarkan badan dan menghilangkan kotoran yang menempel
padanya; dia berhaji -di samping niat beribadah kepada Allah- untuk menyaksikan

lokasi-lokasi syiar haji (al-Masya'ir) dan bertemu para jama'ah haji; maka hal ini akan
mengurangi pahala ikhlas akan tetapi jika yang lebih dominan adalah niat beribadahnya,
berarti pahala lengkap yang seharusnya diraih akan terlewatkan. Meskipun demikian,
hal ini tidak berpengaruh bila pada akhirnya melakukan dosa. Hal ini berdasarkan
firman Allah -subhanahu wa ta'ala- mengenai para jamaah haji,

"Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rizki hasil perniagaan) dari Rabbmu." (Al-
Baqarah: 198)

Jika yang dominan adalah niat selain ibadah, maka dia tidak mendapatkan pahala
akhirat, yang didapatnya hanyalah pahala apa yang dihasilkannya di dunia itu. Saya
khawatir malah dia berdosa karena hal itu, sebab dia telah menjadikan ibadah yang
semestinya merupakan tujuan yang paling tinggi, sebagai sarana untuk meraih
kehidupan duniawi yang hina. Maka, dia tidak ubahnya seperti orang yang dimaksud di
dalam firmanNya,

"Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika
mereka diberi sebagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak
diberi sebagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah." (At-Taubah:
58)

Di dalam Sunan Abu Daud dari Abu Hurairah -rodliallaahu'ahnu- disebutkan bahwa ada
seorang laki-laki berkata, 'wahai Rasulullah, (bagaimana bila-penj.) seorang laki-laki
ingin berjihad di jalan Allah sementara dia juga mencari kehidupan duniawi?"
Rasulullah -sholallaahu alaihi wa salam- bersabda, "Dia tidak mendapatkan pahala."

Orang tadi mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali dan Nabi -sholallaahu alaihi
wa salam- tetap menjawab sama, "Dia tidak mendapatkan pahala." (Sunan Abu Daud,
kitab al-Jihad(2516); Musnad Ahmad, Juz II, hal. 290, 366 tetapi di dalam sanadnya
terdapat Yazid bin Mukriz, seorang yang tidak diketahui identitasnya (majhul); lihat
juga anotasi dari Syaikh Ahmad Syakir terhadap Musnad Ahmad, no. 7887.)

Demikian pula hadits yang terdapat di dalam kitab ash-Shahihain dari Umar bin al-
Khaththab -rodliallahu'anhu- bahwasanya Nabi -sholallahu alaihi wassallam' bersabda,
"Barangsiapa yang hijrahnya karena ingin meraih kehidupan duniawi atau untuk
mendapatkan wanita yang akan dinikahinya; maka hijrahnya hanya mendapatkan
tujuan dari hijrahnya tersebut". (Shahih al-Bukhari, kitab Bad'u al-Wahyi (1); Shahih
Muslim, kitab al-Imarah (1907).)

Jika persentasenya sama saja, tidak ada yang lebih dominan antara niat beribadah dan
non ibadah; maka hal ini masih perlu dikaji lebih lanjut. Akan tetapi, pendapat yang
lebih persis untuk kasus seperti ini adalah sama juga; tidak mendapatkan pahala
sebagaimana orang yang beramal karena Allah dan karena selainNya juga.

Perbedaan antara jenis ini dan jenis sebelumnya (jenis kedua), bahwa tujuan yang bukan
untuk beribadah pada jenis sebelumnya terjadi secara otomatis. Jadi, keinginannya
tercapai melalui perbuatannya tersebut secara otomatis seakan-akan yang dia inginkan
adalah konsekuensi logis dari pekerjaan yang bersifat duniawi itu.
Jika ada yang mengatakan, "Apa standarisasi pada jenis ini sehingga bisa dikatakan
bahwa tujuannya yang lebih dominan adalah beribadah atau bukan beribadah?"

Jawabannya, standarisasinya bahwa dia tidak memperhatikan hal selain ibadah, maka
baik hal itu tercapai atau tidak tercapai, telah mengindikasikan bahwa yang lebih
dominan padanya adalah niat untuk beribadah, demikian pula sebaliknya.
Yang jelas, perkara yang merupakan ucapan hati amatlah serius dan begitu urgen sekali.
Indikasinya, bisa jadi hal itu dapat membuat seorang hamba mencapai tangga ash-
Shiddiqin, dan sebaliknya bisa pula mengembalikannya ke derajat yang paling bawah
sekali.

Sebagian ulama Salaf berkata, "Tidak pernah diriku berjuang melawan sesuatu
melebihi perjuangannya melawan (perbuatan) ikhlas."
Kita memohon kepada Allah untuk kami dan anda semua agar dianugerahi niat yang
ikhlas dan lurus di dalam beramal.

Rujukan:
Kumpulan Fatwa dan Risalah dari Syaikh Ibnu Utsaimin, Juz 1, hal. 98-100. Disalin
dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, hal. 155-158, Penerbit Darul Haq


0 comments:

Post a Comment

RECENT POST

Popular Posts

Powered by Blogger.
.comment-content a {display: none;}