Home » » Hukum Meninggalkan Shalat dengan Sengaja

Hukum Meninggalkan Shalat dengan Sengaja

Posted by DEC Development Education and Culture on Friday, 20 April 2012


DEC_Pernah tidak teman-teman merasa bersalah saat tidak melakukan shalat secara semestinya? ataukah mungkin teman-teman menganggapnya itu hal yang biasa. jika itu benar, maka info ini mungkin akan sedikit bisa memalingkan fikiran kita.
 
Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja hukumnya kafir, ini berarti ia telah
melakukan kekufuran yang besar menurut pendapat yang paling benar di antara dua
pendapat ulama, yang demikian ini jika orang tersebut mengakui kewajiban tersebut.


Jika ia tidak mengakui kewajiban tersebut, maka ia kafir menurut seluruh ahlul ilmi,
demikian berdasarkan beberapa sabda Nabi -shollallaahu'alaihi wasallam-:
"Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah
jihad." (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (5/231), at-Tirmidzi, kitab al-Imam (2616),
Ibnu Majah, kitab al-Fitan (3973) dengan isnad shahih).
"Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah
meninggalkan shalat." (Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya, kitab al-Iman
(82).

"Perjanjiang (pembatas) antara kita dengan mereka adalah shalat, maka barangsiapa
yang meninggalkannya berarti ia telah kafir." (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (5/346)
dan para penyusun kitab Sunan dengan isnad shahih, at-Tirmidzi, kitab al-Iman (2621),
An-Nasa'i, kitab ash-Shalah (1/232), Ibnu Majah, kitab Iqamatus Shalah (1079)).

Karena orang yang mengingkari kewajiban shalat berarti ia mendustakan Allah dan
RasulNya serta ijma' ahlul ilmi wal iman, maka kekufurannya lebih besar daripada yang
meninggalkannya karena meremehkan. Untuk kedua kondisi tersebut, wajib atas para
penguasa kaum Muslimin untuk menyuruh bertaubat kepada orang yang meninggalkan
shalat, jika enggan maka harus dibunuh, hal ini berdasarkan dalil-dalil yang
menunjukkan hal ini. Lain dari itu, selama masa diperintahkan untuk bertaubat, harus
mengasingkan orang yang meninggalkan shalat dan tidak berhubungan dengannya serta
tidak memenuhi undangannya sampai ia bertaubat kepada Allah dari perbuatannya,
namun di samping itu harus tetap menasehatinya dan mengajaknya kepada kebenaran
serta memperingatkannya terhadap akibat-akibat buruk karena meninggalkan shalat baik
dia dunia maupun diakhirat kelak, dengan demikian diharapkan ia mau bertaubat
sehingga Allah menerima taubatnya.

Rujukan:
Kitab ad-Da'wah, halman 93. Ibnu Baz.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, hal 185-186, penerbit Darul


0 comments:

Post a Comment

RECENT POST

Popular Posts

Powered by Blogger.
.comment-content a {display: none;}