Home » » the Students at the School

the Students at the School

Posted by DEC Development Education and Culture on Wednesday, 11 April 2012

DEC_bagi adik-adik yang masih berseragam putih abu-abu, mungkin kita tidaklah asing dengan sebuah organisasi. tepat, karena dalam tiap-tiap sekolah, diwajibkan memiliki sebuah organisasi. organisasi merupakan wadah lain dari sebuah fasilitas pendidikan formal yang di hampir seluruh dunia. hebatkan, ini merupakan suatu tempat pembelajaran yang menitip beratkan pada hasil kerja yang dibarengi dengan kemampuan berfikir yang tinggi. contoh kecil dari suatu dunia kerja menurut saya.

Nah, beberapa diantara teman-teman mungkin menilai bahwa organisasi hanya membuang-buang waktu saja, atau hanya membuat kita bertindak konyol atau hanya sekedar pergi mencari nama. dengan berbagai alasan tersebut, sehingga organisasi di beberapa sekolah menjadi redup bahkan mati. sungguh sayang sekali menurut saya teman-teman. nah buat menjadi sedikit referensi buat teman-teman yang belum atau mungkin tertarik atau bahkan telah menjadi seorang organisatoris, ini dia beberapa tanggapan dari teman-teman kita, berikut liputannya:



Sebagai 
SMA unggulan di Makassar, SMAN 2 Makassar  menerapkan beberapa sistem pembinaan khusus bagi siswanya. Salah satu pembinaan mengenai kepemimpinan diterapkan melalui organisasi. Di Smada (SMAN 2) sendiri, jumlah organisasi atau yang dikenal dengan ekskul mencapai 20-an. Setiap ekskul punya fokus masing-masing, sesuai dengan minat siswa.



Semangat berorganisasi siswa memang sangat terlihat di sekolah yang menjunjung slogan Bangkit (Bangun Karya Inovasi Terbaik) itu. Ketua OSIS yang baru, Ikbal, menyatakan di luar ekskul resmi, banyak juga kelompok belajar yang dibentuk siswa. Tak heran jika banyak siswa berprestasi lahir karena ditempa melalui ekskul. 

Hal itu ditekankan juga oleh kepala SMAN 2 Makassar,Drs H. Herman Hading, M.Pd. Menurutnya, ekskul tidak ada begitu saja, namun jika siswa ingin membentuk suatu kelompok, mesti mengajukan orientasi ekskulnya. Mereka diberi kebebasan berkreasi dan mengembangkan minat di lingkungan sekolah. Dalam organisasi, diterapkan sistem pembinaan, pelatihan serta penjaringan. Ketiga sistem bisa membentuk karakter rasa percaya diri setiap siswa.

Kepala sekolah yang ditemui Kamis, 5 April lalu itu juga menambahkan, selain pengembangan diri melalui banyak ekskul, sejak masa jabatannya di Smada tepatnya  26 Maret 2011, Herman Hading juga menerapkan sistem pembinaan yang terbuka, terpadu dan berkesinambungan.

Guru wajib mengadakan evaluasi dan monitoring  ekskul setiap harinya. Empat guru secara bergantian akan mengawasi berjalannya pelatihan ekskul yang sudah dijadwal. Hal tersebut sangat efektif agar tiap ekskul berjalan kondusif dan memberikan manfaat yang signifikan kepada semua siswa.

Herman Hading juga menekankan implementasi tiga pilar pendidikan yakni pencitraan, pelayanan dan output. Beliau menjelaskan, di Smada, siswa yang ditempa dan dibina dengan ketat akan membawa nama besar SMAN 2 Makassar dimanapun ia berada, sehingga citra yang baik lahir di masyarakat. Selain itu, pelayanan berupa proses interaksi dan adaptasi juga dilakukan dan yang nantinya menghasilkan output yang berkualitas. 

Pembinaan itu tentunya akan menjadi komitmen para pendidik di Smada. Alumni Smada juga dikenal berprestasi turun menurun. Setiap tahunnya, hampir 80 persen alumni yang masuk perguruan tinggi favorit, baik itu di Makassar maupun luar Makassar. Sebagai harapan, Herman pun mengatakan, seluruh warga Smada patut mempertahankan predikat positif dan melakukan yang terbaik.


sumber: harian fajar


0 comments:

Post a Comment

RECENT POST

Popular Posts

Powered by Blogger.
.comment-content a {display: none;}