Home » » Pelajaran 3 Jari

Pelajaran 3 Jari

Posted by DEC Development Education and Culture on Monday, 7 May 2012


                DEC_Hi guys, pernah tidak berfikir mengenai mengapa jari-jari yang kita miliki masing-masing memiliki panjang yang beda? Atau mungkin teman-teman tidak begitu sempat memerhatikan dengan alasan sibuk?
 
          Nah kali ini guys, kita akan mencoba menarik sebuah pelajaran berharga berdasarkan jari-jari yang kita miliki. Kita fokuskan pada tiga jari tengah kita yakni jari telujuk, jari tengah dan jari manis. Mengapa kita hanya menggunakan ketiga jari-jari ini saja, nah berikut liputannya.


          Secara harfiah, kita mengenal bahwa manusia ada setelah adanya iblis dan malaikat. Sedangkan berdasarkan  dasar pemikirannya bahwa manusia merupakan garis pembatas antara iblis dan malaikat. Dengan kata lain sedikit saja manusia bergerak melenceng dari garis ini maka orang ini  akan menjadi salah satu dari opsi tadi.

          Jadi apa hubungannya dengan ketiga jari tadi?

          Tentunya ketiga jari ini akan kita tarik satu persatu-satu perwakilannya yakni jari telunjuk sebagai kata ganti sifat kepatuhan seperti sifat malaikat, sedangkan jari manis sebagai kata ganti nafsu, sifat dasar iblis.

          Berikut keistimewaan mengapa  kedua ini di pergunakan:
1.    Sifat patuh yang digunakan guna mengikuti pentunjuk-petunjuk benar. Diperuntukkan bagi seseorang yang diberi amanah kepada seseorang  guna melaksanakan amanah dengan baik.
2.    Sifat nafsu merupakan sikap yang berguna untuk meningkatkan motivasi kerja seseorang.

Jadi bagaimana dengan jari tengah?

Tentu saja jari tengah sebagai pengandaian manusia. Diantara ketiga jari-jari ini, jari tengahlah yang terpanjang yang dihimpit oleh jari telunjuk dan jari manis. Bisa diartikan bahwa manusia memiliki kontrol penuh atas berbagai pilihannya. Sedangkan pewarnaan pilihan yang disediakan selalu ditawarkan dari kedua jari yang menghimpitnya.

Bisa pula diterjemahkan bahwa sikap patuh yang didomisil oleh pikiran kita masih bisa dikalahkan oleh nafsu manusia. Dan kesemuanya itu adalah pilihan manusianya sendiri bagaimana dia akan menuruti akal sehatnya ataupun  mengikuti nafsunya yang lebih kuat dari fikiran sehat manusia, namun tak jarang nafsu tersebut bisa ditekan oleh manusianya sendiri dalam memilih opsi yang ditawarkan kepadanya sebelumnya.


0 comments:

Post a Comment

RECENT POST

Popular Posts

Powered by Blogger.
.comment-content a {display: none;}