Home » » Plagiat Sebagai Jurus Terakhir dari Seribu Jurus Jitu Ilmu Pendidikan

Plagiat Sebagai Jurus Terakhir dari Seribu Jurus Jitu Ilmu Pendidikan

Posted by DEC Development Education and Culture on Friday, 2 November 2012


DEC_Hi guys, kali ini seputar kampus akan mencoba untuk membidik satu penyakit masyarakat, khususnya pelajar yang tentunya merugikan diri penggunanya tampa dia sadari. Namun tentunya sebelum membahas lebih dalam mengenai penyakit kotor ini, teman-teman harus faham dulu deh mengapa hal ini lalu diangkat menjadi satu pembahasan yang cukup serius untuk kita nantinya. Well, untuk mengetahui lebih lanjut, mari kita mulai pembahasan kita, let’s moved.
 
Plagiat atau kasus dimana seseorang mencuri atau menggunakan ide seseorang tampa menerangkan atau mengakui hasil karnya otak seseorang baik separuh atau menyeluruh bahkan sedikit saja dikategorikan sebagai plagiat. Kasus plagiat sendiri telah mewabah dan menjangkiti masyarakat kita bahkan parahnya peran ini paling banyak dibawakan dan disebarluaskan oleh kaum-kaun pelajar masa kini. Maka semakin mirislah pandangan kita pada dunia pendidikan, khususnya dinegara kita tercinta ini yakni Indonesia.
 

Mewabahnya penyakin ini sebenarnya tak terlepas dari kurangnya saling menghormati diantara kita sehingga meringankan hati dan fikiran kita untuk melakukan hal tersebut. Padahal dalam faktanya sendiri, hal ini justru berdampak yang lebih buruk bagi diri kita sendiri. Bayangkan saja, bila penyakit jenis ini yang sudah tentu tak didapatkan obatnya diseluruh apotik-apotik di Indonesia menyerang seluruh lapisan dan individu masyarakat kita, tentu saja Negara kita akan berjalan mundur, tidak lagi berjalan ditempat layaknya sekarang ini.
 
Dampak-dampak yang ditimbulkan oleh sistem ini yakni
1.       Melemahkan sistem kinerja otak kita, sehingga daya kreatifitas tiap individu akan semakin merosot bahkan bisa memudar secara perlahan dan pasti.
2.       Memperpendek usia kita, karena dengan tidak mendayagunakan  kemampuan otak kita dan cenderung membiarkannya diam, maka sel-sel otak kita akan lebih cepat mati karena tak digunakan lagi dan tentunya daya kehidupan kita akan semakin berkurang. Kuncinya ialah dengan memaksimalkan kemampuan otak kita sehingga setiap sel otak dapat merespon sebaik mungkin dan tetap aktif. Ingatlah bahwa otak manusia merupakan komputer tercanggih yang tak dapat dibandingan dengan komputer paling canggih didunia sekalipun.
3.       Mempersempit potensial pada diri kita sehingga hasil sumber daya manusia (SDM) kita sendiri akan semakin menurun. Dalam daftar potensial manusia di dunia, daftar-daftar nama pengembang masa kini justru lebih menurun dibanding  dengan para penemu di masa lalu. Padahal dibandingkan dengan fasilitas-fasilitas masa kini, maka seharusnya masyarakat sekarang justru jauh lebih pintar dari mereka yang terbatas pada fasilitas. Namun fakta menyebutkan bahwa potensi manusia dalam berkarya justru lebih baik disbanding sekarang ini.
Tidak hanya itu teman-teman, sikap apatis kita yang hanya menginginkan kebaikan untuk diri sendiri akan menghancurkan sistem masyarakat madani yang didambakan oleh seluruh masyarakat dibelahan dunia ini. Sikap ini pula merupakan salah satu factor utama penghancur masyarakat bila mana sistem saling menghormati dan menghargai tidaklah dihidupkan. Dan contohnya ialah zaman sekarang ini.

Negara kita sebenarnya menyimpan potensi yang jauh lebih besar disbanding potensi alam yang kita miliki sekarang yang tentunya diakui oleh mata internasional. Potensi ini yakni daya kreatifitas kita. Masyarakat kita ini tidak hanya dari satu atau dua suku namun lebih dari itu, perbbedaan factor geografi dan masyarakat ini lah menbuat tipe pemikiran berbeda dengan kata lain wujud kreatifitas yang baru yang sangat dinanti-nantikan dunia sekarang ini.

Jadi mulai dari sekarang, mari kita berhenti untuk melakukan tekhik pelagiat atau jurus mencontek. Dengan menghargai kualis diri sendiri, maka kualitas diri kita akan semakin membaik dan kuantitas ide-ide kreatif yang lahir dari buah fikir kita akan semakin bertambah. Jangan hanya ikut kompetisi paras saja yang sedang merajai bumi kita ini, namun didampingi dengan kemampuan untuk mengolah otak dan fikiran kita lah agar penyakit plagiat ini terhapuskan dari benak kita sendiri.


0 comments:

Post a Comment

RECENT POST

Popular Posts

Powered by Blogger.
.comment-content a {display: none;}